Selamat Jalan Markis Kido

0 298

Jakarta – Suasana duka dan sedih mendalam mengiringi pemakaman pahlawan bulutangkis Indonesia, Markis Kido. Keluarga dan puluhan mantan atlet ikut hadir mengiringi pemakaman sang legenda di Pemakaman Umum Kebon Nanas, Kelurahan Cipinang Besar Selatan, Jakarta Timur, Selasa (15/6) siang. Berpulangnya Kido (36 tahun) akibat serangan jantung saat bermain bulutangkis di Tangerang pada Senin (14/6) malam, memang mengejutkan banyak pihak.

Ucapan turut belasungkawa datang dari berbagai kalangan. Terutama dari stakeholder olahraga baik nasional mapun internasional. Jasa sang pahlawan olahraga tidak akan dilupakan. Lama berpasangan dengan Hendra Setiawan, Kido telah sukses membawa harum bangsa di kancah SEA Games, Asian Games, Kejuaraan Dunia hingga Olimpiade. Prestasinya sebagai atlet, boleh dibilang telah sempurna.

Chandra Wijaya yang hadir pada acara pemakaman dan sebelumnya menyaksikan detik-detik terakhir meninggalnya Kido, terlihat sangat berduka atas kepergian rekannya itu. 

“Semalam ia bermain biasa sebenarnya, saya sempat foto-foto. Pas saya lihat mau tersungkur saya langsung menghampiri dan memberikan pertolongan pertama hingga membawa ke RS Omni (terdekat),” kata peraih emas ganda putra Olimpiade 2000 bersama Tony Gunawan itu, sambil menyeka air mata.

Chandra memuji bahwa Kido adalah sosok luar biasa. Pertama, jarang kejadian manusia yang memiliki riwayat hipertensi namun bisa menjadi juara dunia. “Dapat dibilang langka ya, sebenarnya memang ada riwayat hipertensi dari dulu memang begitu, tapi bisa menjadi juara dunia, bahkan kemarin saat vaksin bareng kelihatannya ia tidak jadi karena tensinya tinggi,” kata dia.

Yang kedua, sebagai senior ia terus menularkan semangat juang kepada junior, bahkan tradisi emas Olimpiade dapat dipertahankan. “Sebagai senior selalu menularkan semangat juang kepada junior, bahkan tradisi emas Olimpiade Beijing ia tunjukkan,” tutupnya. 

Adik almarhum, Bona Septano menuturkan bahwa tidak ada firasat apa-apa, bahkan pagi hingga siang bersama ibunda tercinta Kido (panggilan akrabnya) masih makan diluar rumah dan banyak bercanda. “Tidak ada firasat, meskipun memang beberapa hari mengeluh sakit tapi sudah biasa memang selalu minum obat hipertensi. Waktu izin ke ibu sore sebenarnya dilarang tapi karena katanya hanya main biasa sama teman-teman diizinkan sama ibu,” tutur Bona, yang juga pernah menghuni Pelatnas PBSI.

Dimata keluarga, Markis Kido luar biasa, tanggungjawab, perhatian dan sayang pada semuanya. Selalu membimbing adik-adik untuk terus bersemangat menekuni hal-hal yang disenangi untuk masa depannya. “Uda luar biasa, perhatian, sayang dan tanggung jawab terhadap keluarga. Selalu membimbing adik-adiknya,” tambahnya.

Dari ruang media center Kemenpora, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainudin Amali mengucapkan duka yang cukup mendalam atas meninggalnya Markis Kido kemarin. “Kita seluruh masyarakat kehilangan salah satu pahlawan bulutangkis Indonesia, kepergiannya memang begitu cepat dan cukup mengagetkan. “Kita semua sangat berduka atas meninggalnya Markis Kido diusia yang sangat muda 36 tahun,” kata Menpora Amali. 

Menpora Amali berharap prestasi yang diukir Markis Kido untuk Indonesia patut diteladani pagi para pebulutangkis muda. “Dia banyak mengukir juara baik di tingkat Asia maupun Dunia (Olimpiade Beijing), semangat juangnya dapat menjadi contoh para pebulutangkis penerusnya,”  ujar Menpora.

Leave A Reply

Your email address will not be published.